Sejarah Masjid Lawang Kidul Palembang, Menara dan Material Bangunan Miliki Ciri Khas

Untuk menuju ke sini bisa melalui jalur darat yakni dari jalan Slamet Riadi Lima Ilir Palembang

Sejarah Masjid Lawang Kidul Palembang, Menara dan Material Bangunan Miliki Ciri Khas
Tribunsumseltravel.com/Melisa Wulandari
Mimbar masjid Lawang Kidul Palembang 

TRIBUNSUMSELTRAVEL.COM, PALEMBANG - Sungai Musi tak hanya menjadi denyut nadi ekonomi di kota Palembang namun juga menjadi pusat pengembangan agama Islam seperti berdirinya masjid berumur ratusan tahun yakni masjid Lawang Kidul Palembang.

Kiai Muara Ogan yang memiliki nama asli Massagus Haji Abdul Hamid ini selain membangun masjid Kiai Muara Ogan juga membangun masjid Lawang Kidul Palembang ini.

Untuk menuju ke sini bisa melalui jalur darat yakni dari jalan Slamet Riadi Lima Ilir Palembang, atau juga bisa melalui jalur Sungai Musi.

Arsitektur Masjid Lawang Kidul memiliki ciri khas yakni menara masjid yang memiliki tiga undakan pada bagian tubuh menara, kemudian material masjid terdiri atas campuran batu kapur, putih telur dan pasir.

Menara utama masjid Lawang Kidul terbuat dari kayu unglen tanpa sambungan
Menara utama masjid Lawang Kidul terbuat dari kayu unglen tanpa sambungan (Tribunsumseltravel.com/Melisa Wulandari)

"Bahan-bahan inilah yang membuat masjid ini bertahan lama. Pilar utama masjid yang terdiri dari empat soko guru setinggi 8 meter, dengan 12 pilar pendamping setinggi 6 meter," jelas Ketua Masjid Lawang Kidul, Ki Agus M Fauzi Aroni saat dibincangi Tribun di masjid Lawang Kidul Palembang.

Seluruh tiang masjid berbentuk segi-delapan terbuat dari kayu unglen yang disusun tanpa sambungan.

Kemudian terdapat juga mimbar yang diukir kuning keemasan juga terus dipertahankan.

Mimbar masjid Lawang Kidul Palembang
Mimbar masjid Lawang Kidul Palembang (Tribunsumseltravel.com/Melisa Wulandari)

Di masjid ini juga terdapat banyak pintu masuk, pintu utama tepat berada di pinggiran sungai Musi yang menghadap ke arah Selatan.

"Maka dari itu masjid ini disebut Lawang Kidul, Lawang berarti pintu dan kidul itu Selatan, di Selatan ini mengarah ke laut (orang Palembang biasa menyebut sungai dengan sebutan laut)," jelasnya.

"Masjid ini didirikan pada 1881 Masehi oleh Kiai Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud alias Kiai Muara Ogan. Berdasarkan catatan yang ada pada prasasti di salah satu pejok mimbar masjid Lawang Kidul yang bertanggal pada 28 Safar 1310 H," jelasnya.

Masjid ini selesai dibangun pada tanggal tersebut, yang kemudian diwakafkan oleh Masagus Haji Abdul Hamid pada 6 Syawal 1310 H atau 23 April 1893 Masehi bersama-sama dengan Masjid Muara Ogan.

Masjid Lawang Kidul maupun Masjid Muara Ogan dibangun dengan biaya sendiri 100 persen oleh Masagus Haji Abdul Hamid Bin Mahmud.

"Hal ini wajar saja karena beliau adalah seorang pengusaha kaya yang sukses pada waktu itu," ujarnya. (Elm)

Ikuti kami di
Editor: Melisa
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved