Sejarah Masjid Ki Marogan, Masjid Tua yang Dibangun Oleh Saudagar Kaya Palembang di Abad ke 18

Di masjid tua dengan arsitektur yang masih dipertahankan lebih dari satu abad ini menjadi destinasi religi mengagumkan.

Sejarah Masjid Ki Marogan, Masjid Tua yang Dibangun Oleh Saudagar Kaya Palembang di Abad ke 18
Tribunsumseltravel.com/Melisa Wulandari
Masjid Ki Marogan yang terletak di pertemuan antara sungai Musi dan sungai Ogan, dari segi arsitektur bangunan masjid ini sama dengan masjid Agung Palembang. 

TRIBUNSUMSELTRAVEL.COM, PALEMBANG - Sudah berdiri selama 3 abad lebih, masjid Ki Muara Ogan atau Ki Marogan menjadi salah satu masjid tertua di Palembang lainnya setelah masjid Agung Palembang.

Masjid ini didirikan pada 1310 Hijriah atau 1871 Masehi oleh ulama besar Palembang yang sangat terkenal dijamannya, yaitu Ki Masagus H Abdul Hamid atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Marogan.

Penamaan masjid ini diambil dari nama julukan bagi ulama besar Palembang yang bernama lengkap Kiai Haji Masagus Abdul Hamid Bin Mahmud yang terkenal gigih memperjuangkan islam di Palembang.

"Ki Marogan dikenal sebagai ulama yang memiliki harta yang sebagian besar untuk menyebarkan agama Islam, dulunya beliau saudagar kaya pengusaha kayu bakar bahkan saudara saudaranya ada yang menetap di Mekkah," jelas bendahara Yayasan Masjid Ki Merogan Palembang Ismail Effendi, Kamis (14/5/2020).

Sebagai pengusaha yang sukses Ki Marogan mendirikan masjid di pertemuan antara sungai Musi dan sungai Ogan, dari segi arsitektur bangunan masjid ini sama dengan masjid Agung Palembang.

Mimbar masjid Ki Marogan Palembang
Mimbar masjid Ki Marogan Palembang (Tribunsumseltravel.com/Melisa Wulandari)

Masjid ini bernama Masjid Jami' Kiai Haji Abdul Hamid bin Mahmud. Akan tetapi masjid ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kiai Muara Ogan yakni masjid yang didirikan oleh Kiai yang bertempat tinggal di tepi Sungai Musi di Muara Sungai Ogan.

"Lama kelamaan penyebutan Muara Ogan berubah menjadi Marogan atau Merogan sehingga nama Masagus Haji Abdul Hamid sering dipanggil Kiai Masagus Haji atau Kiai Marogan dan masjldnya populer dengan sebutan Masjid Muara Ogan," jelasnya.

Nama Kiai Marogan sekarang ini juga diabadikan sebagai nama jalan, mulai dari simpang empat jembatan Musi II Kemang Agung sampai dengan simpang 4 jembatan Kertapati 1 Ulu Palembang.

Pada mulanya masjid ini digunakan sebagai tempat salat dan belajar mengaji serta belajar agama bagi para keluarga dan masyarakat sekitar kampung Karang Berahi Kertapati, karena sebagai ulama Masagus Haji Abdul Hamid mempunyai banyak murid.

"Salah satu muridnya sekaligus teman dekatnya yaitu Kiai Kemas Haji Abdurrahman Delamat atau sering disebut Kiai Delamat yang mendirikan masjid Al Mahmudiyah Suro 32 Ilir Palembang," ujarnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Melisa
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved