Sejarah Masjid Al Mahmudiyah Palembang, Dikenal Masjid Suro hingga 36 Tahun Dilarang Salat Jumat

Bentuk bangunan masjid besar Al Mahmudiyah atau masjid Suro ini masih serupa dengan awal pembangunannya, tak berubah

Sejarah Masjid Al Mahmudiyah Palembang, Dikenal Masjid Suro hingga 36 Tahun Dilarang Salat Jumat
Tribunsumseltravel.com/Melisa Wulandari
Masjid besar Al Mahmudiyah Palembang atau juga sering disebut masjid Suro 

TRIBUNSUMSELTRAVEL.COM, PALEMBANG - Masjid besar Al Mahmudiyah atau dikenal juga dengan masjid Suro yang terletak di pertigaan Jalan Kirangga Wira Sentika

dan Jalan Ki Gede Ing Suro Kelurahan 30 Ilir Kecamatan Ilir Barat II ini terlihat masih kokoh sampai sekarang meski telah berdiri selama 1 abad.

Bentuk bangunan masjid besar Al Mahmudiyah atau masjid Suro ini masih serupa dengan awal pembangunannya, tak berubah sedikit pun.

Bentuk atapnya berundak-undak dan menara masih asli.

Bangunan yang juga masih lestari adalah kolam wudhu, meski pengurus telah memasang pancuran untuk wudhu namun masih banyak warga yang tetap menggunakan kolam ini.

Warga sekitar juga percaya kalau kolam ikan ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

"Masjid Al Mahmudiyah ini didirikan oleh Kiai H Abdurahman Delamat, salah satu ulama besar Palembang pada 1893," ujar wakil ketua masjid besar Al Mahmudiyah Palembang Kgs HA Rasyid saat dibincangi Tribun melalui telepon, Rabu (13/5/2020).

"Masjid ini memiliki 16 tiang yang terdiri dari 4 tiang sokoguru dan 12 tiang penopang yang hingga kini belum pernah diganti, selain itu mimbar imam juga tetap asli yang menggambarkan gigihnya sang ulama menyebarkan siar Islam saat itu," jelasnya.

Di mimbar ini juga terdapat peti bekas penyimpanan senjata melawan Belanda, sebelum ulama Ki Delamat diasingkan Belanda.

"Dulu usai masjid dibangun, Kompeni waktu itu makin gerah dengan penyebaran agama Islam dan  proses pembelajaran yang dilakulan Ki Delamat, akhirnya memanggil paksa beliau," katanya.

"Perdebatan panjang hingga pelarangan salat Jumat oleh Residen Belanda pernah terjadi di masjid besar Al Mahmudiyah selama 36 tahun lamanya," jelasnya.

Puncaknya, Ki Delamat yang tetap bersikeras mengajarkan Islam akhirnya dibuang oleh Belanda ke Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin.

Di Babat Toman pun, Ki Delamat membangun masjid di tengah dusun, dengan bangunan persis serupa dengan masjid Suro.

Ki Delamat wafat di Dusun Sereka dan dimakamkan di masjid Babat Toman, Musi Banyuasin.

Tetapi semasa hidupnya, Ki Delamat pernah meminta bila dia wafat dan dimakamkan di Masjid Suro. (Elm)

Ikuti kami di
Editor: Melisa
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved