Melihat Rumah 100 Tiang di OKI, Syarat Pernikahan Pinangan Putra dari Pangeran Rejed

Meski telah berdiri ratusan tahun, rumah tersebut hingga kini masih bisa kita temukan dan dipelihara dengan baik oleh

Tribunsumsel.com/Nando Zein
Rumah 100 Tiang di Ogan Komering Ilir 

Tepatnya pada abad 18 jadilah rumah yang disebut rumah seratus tiang dikarenakan memang tiang penyanggah rumah betul betul berjumlah seratus batang.

Keberadaan rumah tersebut sebenarya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Pangeran Rejed, dikarenakan masih banyak ukiran lukisan yang belum terselesaikan.

BACA JUGA:  Layani Wisman ke Pulo Kemaro, Yamin Pengemudi Kapal Cepat Tak Takut Virus Corona Pengaruhi Bisnisnya

"Dia merencanakan seluruh tiang rumah harus bemuansa ukir, namun si arsitek tidak mampu menyelesaikan dia keburu pulang ke Cina," tuturnya.

Oleh anak Pangeran Rejed Wira laksana rumah tersebut dijadikan sebagai pusat kekuasaan pemerintahan marga Bengkulah.

Setiap diadakan pertemuan para pangeran atau pertemuan dengan pemerintah Belanda maka rumah tersebut menjadi pilihan utama.

Pada awalnya di beberapa bagian rumah dibalut dengan kain sebagai kasta tempat pertemuan para ningrat, sekarang rumah tersebut dihuni oleh titisan ketujuh keturunan dari Pangeran Rejed.

BACA JUGA: Kepala Dinas Pariwisata Palembang Minta Masyarakat Untuk Tak Berlebihan Tanggapi Virus Corona

"Pengakuan dari penghuni rumah semua ornamen rumah belum ada yang direnovasi kecuali atap bagian atas. Hal tersebut dilakukan dikarenakan sudah ada yang pecah atau rapuh dimakan waktu," ujarnya.

Oleh orang setempat perkampungan rumah seratus tiang dimaksud disebut sebagai kampong Pengeran.

Secara historisasinya, dikatakan sebagai kampong Pengeran karena hampir seluruh rumah yang ada di sekitar wilayah tersebut adalah masih ada kaitan darah dari si pengeran.

"Kondisi rumah disekitar wilayah ini masih dapat dikatakan utuh ditilik dari kondisi bangunan rumah huninya

Walaupun ada yang direnovasi, namun tetap tidak meninggalkan keaslian dari bentuk semula sebagai cermin rumah adat atau rumah bersejarah masa lalu," tutupnya. (Nando Zein/Tribun Sumsel)

BACA JUGA: Tak Hanya Hujan, Hal Ini Juga Jadi Penyebab Produksi Kopi di Sumsel Menurun

TONTON JUGA:

Ikuti kami di
Editor: Melisa
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved